Abu Isa At-Tirmidzi diakui oleh para ulama keahliannya dalam hadits, kesalehan dan ketakwaannya. Ia terkenal pula sebagai seorang yang dapat dipercaya, amanah dan sangat teliti. Para ulama besar memuji dan menyanjungnya, dan mengakui akan kemuliaan dan keilmuannya. Al-Hafiz Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban, kritikus hadits, menggolangkan Tirmidzi
Di dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasanya setelah orang-orang kafir baik musyrikin maupun ahlul kitab digiring ke neraka, maka tidak tersisa kecuali orang-orang yang menyembah Allah, yang shaleh maupun yang faajir.
Lihatlah, Al Faruq Umar bin Khaththab mendengar sebuah hadits dari Abu Musa Al Asy’ari, lalu ia mengingkarinya, sampai kemudian Abu Sa’id Al Khudri bersaksi menguatkan Abu Musa Al Asy’ari, bahwa ia mendengar hadits itu juga, lalu Umar (pun) berkata: “Aku belum mengetahui hadits ini termasuk perkara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahid] dari [Umarah bin Al Qa'qa'] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Abu Nu'm] ia berkata, saya mendengar [Abu Sa'id Al Khudri] berkata; Ali bin Abu Thalib pernah mengirim emas -yang diletakkan dalam tas yang kotor- kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari Yaman. kemudian
Pada Pertempuran Harrah tahun 64/683, ia ikut berperang untuk mempertahankan Madinah dari serbuan tentara Bani Umayyah. Ia disebutkan meninggal pada tahun 63/682, 64/683, 65/684, atau 74/693. Abu Sa'id salah satu perawi hadis yang paling banyak digunakan oleh umat Muslim.
HADITS-HADITS TENTANG SUJUD SAHWI. Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang lupa dalam shalat dijelaskan dalam hadits-hadits berikut : 1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam dari dua raka’at, kemudian diingatkan. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan sisanya dan sujud setelah salam.
Sebagiannya disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir, lebih dari tiga puluh hadits dalam kitab-kitab Shahiih, Sunan dan kitab-kitab Musnad.” [3] Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Beberapa Alasan Kodifikasi Hadis Telah Ada Sejak Awal. Setelah kajian tersebut, tidak ditemukan hadis shahih terkait pelarangan menulis hadis, kecuali dari Abi Said al-Khudri (w. 64 H) yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (w. 261 H). Menurut al-Khatib, sebab pelarangan menulis hadis disimpulkan dalam beberapa hal berikut:
Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah, Ad-Daraquthni dan yang lain. Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ dari Amr bin Yahya, dari ayahnya, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tanpa
Tirmidzi, no. 238 dan Ibnu Majah, no. 276. Abu ‘Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Lafazh takbiratul ihram adalah “ALLOHU AKBAR”, dan dinukil lafazh ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ucapan takbir ini berbeda dengan takbir lainnya karena dianggap sebagai rukun.
gfMRt.